4 Cerita Fabel Binatang Pendek Yang Menarik dan Seru

cerita fabel binatang pendek – Cerita fabel adalah cerita yang menggambarkan tentang kehidupan binatang yang berprilaku seperti manusia. Cerita Fabel merupakan cerita Fiksi artinya cerita yang ada bukan lah cerita yang benar-benar terjadi di dunia nyata. didalam cerita fabel pasti tersimpan pesan moral yang dapat diambil pelajaran untuk kehidupan sehari-hari.

Berikut ini 4 cerita fabel binatang pendek yang bisa kita baca dan kita ambil hikmahnya

Balas Budi Burung Bangau

cerita fabel binatang pendek paling menarik

Balas Budi bangau

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya.
Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu.

Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa.
Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju.

“Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku,” ujar Yosaku.

“Nona mau pergi kemana sebenarnya ?”, Tanya Yosaku. “Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena
salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat.” “Bolehkah aku menginap disini malam ini ?”.

“Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan.” ,kata Yosaku.

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap”.

cerita fabel binatang pendek

Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak. Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia akan merasa kesepian.
Salju masih turun dengan lebatnya.

“Tinggallah disini sampai salju reda.” kata Yosaku. Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, “Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini.” Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu.

“Mulai hari ini panggillah aku Otsuru”, ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun. Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun.

Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai.
“Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang.

“Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. “Baiklah akan aku buatkan”, ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. “Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya”, kata Otsuru.

Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu.

cerita fabel binatang pendek

Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru.

“Akhirnya kau melihatnya juga”, ujar Otsuru. “Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu
pernah Kau tolong”, untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini,” ujar Otsuru.

“Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu”, lanjut Otsuru.

“Maafkan aku, ku mohon jangan pergi,” kata Yosaku.

cerita fabel binatang pendek

Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terbang keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

**********

Cerita fabel binatang pendek Berikutnya menceritakan tentang Seekor Buaya. Berikut ceritanya.

Buaya yang Tidak Jujur

Ada sebuah sungai di pinggir hutan. Di sungai itu hiduplah sekelompok buaya. Buaya itu ada yang berwarna putih, hitam, dan belang-belang. Meskipun warna kulit mereka berbeda, mereka selalu hidup rukun.

Di antara buaya-buaya itu ada seekor buaya yang badannya paling besar. Ia menjadi raja bagi kelompok buaya tersebut. Raja buaya memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga dicintai rakyatnya.

Suatu ketika terjadi musim kemarau yang amat panjang. Rumput-rumput di tepi hutan mulai menguning. Sungai- sungai mulai surut airnya. Binatang-binatang pemakan rumput banyak yang mati.

Begitu juga dengan buaya-buaya. Mereka sulit mencari daging segar. Kelaparan mulai menimpa keluarga buaya. Satu per satu buaya itu mati.

Setiap hari ada saja buaya yang menghadap raja. Mereka melaporkan bencana yang dialami warga buaya. Ketika menerima laporan tersebut, hati raja buaya merasa sedih.

pixabay.com

Untung Raja Buaya masih memiliki beberapa ekor rusa dan sapi. Ia ingin membagi-bagikan daging itu kepada rakyatnya. Raja Buaya kemudian memanggil Buaya Putih. Dan Buaya Hitam. Raja Buaya lalu berkata,

“Aku tugaskan kepada kalian berdua untuk membagi- bagikan daging. Setiap pagi kalian mengambil daging di tempat ini. Bagikan daging itu kepada teman-temanmu!”

“Hamba siap melaksanakan perintah Paduka Raja,” jawab Buaya Hitam dan putih serempak.

“Mulai hari ini kerjakan tugas itu!”perintah Raja Buaya
lagi.

Kedua Buaya itu segera memohon diri. Mereka segera mengambil daging yang telah disediakan. Tidak lama kemudian mereka pergi membagi-bagikan daging itu. Buaya Putih membagikan makanan secara adil.

Tidak ada satu buaya pun yang tidak mendapat bagian. Berbeda dengan Buaya Hitam, daging yang seharusnya dibagi- bagikan, justru dimakannya sendiri. Badan Buaya Hitam itu semakin gemuk.

Selesai membagi-bagikan daging, Buaya Putih dan Buaya Hitam kembali menghadap raja.

“Hamba telah melaksanakan tugas dengan baik, Paduka,” lapor Buaya Putih.

“Bagus! Bagus! Kalian telah menjalankan tugas dengan baik,” puji Raja.

Suatu hari setelah membagikan makanan, Buaya Putih mampir ke tempat Buaya Hitam. Ia terkejut karena di sana-sini banyak bangkai buaya. Sementara tidak jauh dari tempat itu Buaya Hitam tampak sedang asyik menikmati makanan. Buaya Putih lalu mendekati Buaya Hitam.

“Kamu makan jatah makanan temen-teman, ya?, kamu biarkan mereka kelaparan!” ujar Buaya Putih.

“Jangan menuduh seenaknya!” tangkis Buaya Hitam. “Tapi, lihatlah apa yang ada di depanmu itu!” sahut
Buaya Putih sambil menunjuk seekor buaya yang mati tergeletak.

“Itu urusanku, engkau jangan ikut campur! Aku memang telah memakan jatah mereka. engkau mau apa?” tantang Buaya Hitam.

“Kurang ajar!” ujar Buaya Putih sambil menyerang Buaya Hitam. Perkelahian pun tidak dapat dielakkan. Kedua buaya itu bertarung seru. Karena kekenyangan, Buaya hitam geraknya lamban. Akhirnya, Buaya Hitam dapat dikalahkan.

pixabay

Buaya Hitam lalu dibawa kehadapan Raja. Beberapa buaya ikut mengiringi perjalanan mereka. Di hadapan Sang Raja. Buaya Putih segera melaporkan kelakuan Buaya Hitam. Setelah mendengarkan saksi-saksi, Buaya Hitam lalu mendapat hukuman mati karena kecuranganya itu.

“Buaya Putih, engkau telah berlaku jujur, adil, serta patuh. Maka kelak setelah aku tiada, engkaulah yang berhak menjadi raja menggantikanku,” demikian titah Sang Raja kepada Buaya Putih

**********

Cerita fabel binatang pendek yang selanjutnya menceritakan Seekor burung dan gadis kecil.

Aini dan Burung Kecil

id.aliexpress

Aini berulang tahun. Ia gadis kecil yang manis. Hari ulang tahunnya dirayakan dengan pesta kecil yang meriah. Halaman belakang rumahnya dihiasi banyak balon, pita, dan bunga-bunga. Hiasan itu pemberian dari Bibi Anya, adik ibunya. Taman kecil di belakang rumah itu jadi indah sekali.

Pesta ulang tahun itu diisi doa. Mereka berdoa agar Aini selalu diberi kebahagiaan. Lalu nyanyian selamat ulang tahun yang ramai. Barulah acara makan yang menyenangkan. Ulang tahun yang melelahkan, tapi menyenangkan. Aini menerima banyak kado.

Bungkus dan pita-pitanya sangat indah, Setelah pesta selesai, Aini membuka kado-kado itu, satu persatu. Hadiahnya macam-macam. Ada banyak buku cerita, pensil warna, sepatu, boneka, topi, dan banyak lagi. Aini senang sekali.

Namun masih ada satu kado yang belum dibukannya. Apa itu? Kado itu cukup besar, dibungkus kain biru nan indah. Aini tak sabar membukanya. Hop! Aaah, sebuah sangkar keperakan.

Di dalamnya ada seekor burung yang cantik. Bulu burung itu berwarna merah, kuning, dan hijau. Aini kaget melihatnya. Namun kemudian ia merasa senang, karena burung itu sangat cantik.

“Kau kunamai Mungil,” kata Aini pada burung itu.

Aini merasa, itulah hadiah ulang tahun yang paling indah. Ia kemudian menaruh Mungil dan sangkarnya di meja taman. Halaman belakang yang ditumbuhi bunga dan pohon tinggi.

“Oh, Mungil, menyanyilah,” pinta Aini, setiap ia mengengok burung kecil itu. Namun burung itu tak mau menyanyi.

“Oh, burung yang lucu, menyanyilah,” pinta Aini lagi. Mungil masih saja diam. Ia seperti sedang bersedih.

“Mungil sayang, apakah engkau bersedih?” tanya Aini. Burung itu mengangguk. “Apakah engkau ingin keluar dari sangkarmu?” tanya gadis kecil itu. Burung itu mengangguk lagi.

“Baiklah, kau akan kulepaskan,” kata Aini. Ia membuka pintu sangkar. Brrrr… Mungil pun terbang. Kepak sayapnya sangat indah.

“Selamat jalan, Pelangiku,” kata Aini.

gutbilder

Ia sedih karena kehilangan burung kesayangannya. Ia pun mulai kelihatan murung. Pengasuhnya jadi sedih melihat Aini seperti itu.

“Pakailah topi ini. Kau akan kelihatan seperti seorang putri,” katanya. Ia memeperlihatkan sebuah topi lebar hadiah ulang tahun dari ayahnya. Aini menggeleng.

“Aku kangen pada Mungil,” katanya.

“Oh, itukah nama burung itu?” tanya pengasuh. Aini mengangguk.

“Apakah engkau melepaskan Mungil?” sang pengasuh bertanya lagi.

“Ya, karena aku tak ingin Mungil bersedih. Ia tak mau tinggal dalam sangkar.”

“Kalau begitu jangan sedih, Aini. Mungil pasti sedang bergembira. Ia terbang sekarang. Ia senang melihat pemandangan dari angkasa. Kau tahu, Aini sayang. Burung sangat suka terbang,” katanya.

“Benarkah ia bahagia?” tanya Aini.

“Aku yakin, Aini. Suatu hari, Mungil akan datang. Ia akan berterima kasih padamu. Karena engkau melepaskannya,” kata pengasuhnya.

id.aliexpress

Pengasuh Aini benar. Esok harinya, Mungil datang menjumpai Putri. Burung itu berdiri di atas cabang pohon. Sayapnya dikepakkan. Lalu Mungil bernyanyi, “Trilili tralala… trilili tralala…” Aini terkejut, Namun ia senang sekali. Ia senang melihat burung itu hinggap di cabang pohon.

“Burung kecilku, kau kembali!” serunya.

Semenjak itu Mungil datang setiap pagi. Aini pun selalu menyambutnya dengan gembira. Mungil selalu berkicau dengan indah. Akhirnya Aini dan Mungil sama-sama bahagia.

**********

Cerita fabel binatang pendek yang berikutnya ini menceritakan tentang kesombongan sang Harimau dan kepintaran si Kancil.

Harimau yang Sombong

Animals – National Geographic

Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya.

“Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah,” kata harimau dalam hati.

Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya tidak tahan lagi.

“Benar-benar keterlaluan si harimau !” kata Kancil menahan marah.

“Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok.

Setelah lama terdiam,

“Hmm, aku ada ide,” kata si kancil tiba-tiba.

“Tapi kau harus menolongku,” lanjut si kancil.

“Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting,” kata kancil pada kelinci.

fabel, cerita binatang

parody.wikia.com

“Tugas penting apa, Cil?” tanya kelinci heran.

“ Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana.”

“Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?”, kata kelinci.

“Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik”.

“Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi.

Si kelinci pun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya.

“Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada.

“Itu dia si Kancil!” kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan.

“Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi,” kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.

“Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?” Tanya harimau sambil marah.

“Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting”.

fabel, cerita binatang, cerita anak

nurazizah.blogspot.com

“Tugas penting apa?”. Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya.

“Aku harus menjaga bende wasiat itu.” Bende wasiat apa sih itu?” Tanya harimau heran.

“Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Harimau jadi penasaran.

“Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu.”

“Jangan, jangan,” kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat,

“Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?”, kata si kancil.

Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi…. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung…nguuuung…..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau.

fabel, cerita binatang, cerita anak

ahadwahyudh.wordpress.com

“Tolong! Tolong!” teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah.

“Grr, awas kau Kancil!” teriak Harimau menahan marah.

“Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?”. Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi.

“Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit- birit disengat lebah,” kata kancil.

“Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?”.

“Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini,” kata kelinci penuh harap.”

Pesan Moral : Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak boleh sombong dan memperlakukan makhluk hidup lain semena- mena.

**********

Leave a Reply