Kamukah Kamuku?

Sepasang mata yang syahdu, suara sopran yang merdu, dan senyuman cerah khas di kedua pelangi itu, kembali menusuk dalam setiap ingatan klasik yang rumit dan mengebu-gebu. Dirimukah itu yang selalu tampil dalam setiap rajutan-rajutan mimipi ini? Gaya berbicaramu merangkai dan menegaskan. Menghias, seakan-akan semuanya tak terbias.

Masih terekam jelas kepolosanmu akan hal baru yang selalu menjadi khas. Dan aku tetap mengagap itu sebagai sebuah keindahan. Tak terbilang berulang kali kau menunjukan itu tapi sekali lagi itu tetap menjadi sesuatu yang unik darimu. Kadang aku sering tergelitik akan kamu yang unik.

Senyumku meruah hanya karena tingkahmu yang lucu. Memandangmu dengan tatapan sayu bersamaan dengan rasa syahdu.Yang pada akhirnya bukan hanya aku yang melakukan hal tabu itu. Kita berdua tersipu malu disaksikan lampu pijar yang harusnya tak mau tahu.

kamukah kamuku?

pixabay

Masih terngiang juga kala kita bertatap muka yang pertama. Di parkiran gedung tua di sebuah kota yang paling istimewa. masih ingatkah dirimu akan kecanggunganku waktu itu? Aku pun tersipu, ketika kau melempar senyum bersahajamu kemudian menyebut namaku.

Berbasa basi tentang hal ini dan itu. Membuat suasana yang awalnya terasa ambigu menjadi menyatu, menjadi berbaur seperti pertemuan kopi dan gula.

Kita lalu menutup senja dengan jingga-Nya berharap esok atau lusa dapat berjumpa dengan dirimu yang sama. Seluruh raga ini begitu sumringah dan bahagia. Betapa waktu itu aku seperti menemukan kembali raga yang sempat tak tertata sekian lama.

kamukah kamuku?

pixabay

Luluh lantak di waktu dulu. Ketika aku masih terlalu bodoh yang selalu bertindak tanpa serta merta berdiskusi dengan seluruh yang ada. Cupu sekali, ketika aku masih sok idealis yang senang dan bangga akan pemikiran apatis tanpa peduli dengan yang artinya sosialis.

Cupuuu sekali, ketika semua kawan menasehati dengan hati tapi aku malah tidak peduli dan menjadikan telinga ini menjadi tuli akan semua yang terpuji.

Ahad ini Tuhan mengizinkan kita bertemu kembali. Dan saat itu aku mulai berimajinasi kalau kita ini seperti musim semi. Ketika kita bertemu, pohon-pohon yang sempat suri menjadi terhiasi dengan daun yang berlebih. Semua pun berebahagia dan bernyayi beredendang ria. Menyemarakan semesta dari ujung selatan hingga ujung utara.

kamukah kamuku?

pixabay

Berdiri diatas permadani alami berhiaskan nafas-nafas suci. Merendahkan diri sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada Ilahi Rabbi. Semoga musim semi ini jangan cepat berganti. Sehingga semua dapat menari dan bernyayi tanpa henti. Dan dunia menjadi tempat kebahagian yang hakiki.

Namun itu semua hanya lah imajinasi. Aku, kamu dan musim semi itu hanyalah sebuah ilusi basi. Kita tak akan pernah benar-benar menjadi kasih. Sekali lagi, menjadi kasih. Pohon-pohon yang bernyayi tadi tidak lebih dari sebuah imijinasi yang berfantasi di musim semi.

Semua berjarak yang seakan-akan mereka musnah terkapak. Saling menatap dengan indahnya tapi tidak akan pernah bisa saling memiliki.

kamukah kamuku?

pixabay

Hari ini dirimu akan kembali lagi tapi dalam ‘kamu’ yang lain. Berjanji akan beretemu untuk bertamu. Aku memang pernah menyuruhmu untuk datang dikala waktu senggang. Menemuiku di tempat di mana aku ditempa untuk menjadi seorang yang bisa bertahta dan bersahaja tanpa melupakan urusan neraka dan surga.

Bagiku tempat ini bukan hanya sekedar tempat tidur biasa. Tempat tidur ini dimataku selalu memiliki kisah-kisah kecil yang akan selalu menguatkanku ketika mulai rapuh. Begitupun kisah-kisah klasik yang tak mungkin berbalik, tentang aku, kamu, dan semua rajutan-rajutan mimipi yang sudah tampak dingin.

Aku bergumam, jangan-jangan ucapan itu hanya candaan belaka. Tapi kesangsian ini seakan-akan hilang ditelan bumi. Kau serius dan sama sekali tak main-main. Kau tirukan apa yang pernah aku ucapkan waktu itu dan mendalam bagai pesan dari alam. Mencengkram seperti elang yang menerkam sasaran.

kamukah kamuku?

pixabay

Kau katakan tentang semua apapun yang pernah berkaitan dengan diriku. Yang menjadi kebiasaanku, yang menjadi kejenuhanku, akan membangkitkan ingatan lawasmu. Ingatan tentang peristiwa-peristiwa yang terjalin antara aku dan kamu di masa itu.

Entah itu keusilan kita, ke anehan kita, ke hebatan kita bahkan hingga ke kompakan kita. Maka hari itu ketika aku dan kamu menikmati tempat dimana kita pernah berada disana walau dengan suasana yang beda, antara kisahku dan sejarahmu yang pernah tertaut kembali terurut. Menghentikan waktu dan memutar kembali masa yang seolah masih terasa.

Hari ini, sepasang mata tajam yang terlihat menggelikan, dikelilingi samar lingkaran hitam dan senyum cerah khas di kedua pelangi, kembali tersiar dalam setiap memori klasik yang harusnya sudah usang tapi tetap terngiang.

Kamu mengucapkan terimakasih, bukan karena sesuatu pemberian melainkan memberi makna yang mengrucut ke perpisahan. Tapi ucapan yang seperti ini tidak membuat aku terperanjat, bahkan aku dari dahulu sudah bergerak mundur bahkan jauh terlampau.

kamukah kamuku?

pixabay

Setelah ini aku berharap agar musim semi dihapuskan dari planet ini. Dan kalau pun tak bisa, semoga musim semi itu dapat berlalu dalam hitungan mikrodetik. Dan jika tetap tidak bisa, aku berharap semoga musim-musim yang lain dapat membangkitkan dan menguatkan.

Karena kita seharusnya menjadi semacam pohon dengan daun-daun baru yang saling mengindahkan. Bukan pohon-pohon yang di musim gugur yang ditinggalakan oleh daun. Bukankah pohon dan daun itu seharusnya bersama, walau hanya sekedar berbincang di tempat yang sama. Becerita akan suka dan duka tanpa harus bersuara.

Jikalau semesta memandang sinis, dan semua makhluk di dalamnya menggunjing. Pastilah tau apa yang bakal kita lakukan. Ya tersenyum dan balaslah dengan keikhlasan. Dan jikalau kamu dan aku telahir sebagai makhluk yang sempurna, tentu cerita ini bakal berakhir dengan kisah yang terukir.

kamukah kamuku?

pixabay

Tapi tak mengapa. Bukankah hidup tujuannya untuk berbahagia dalam menikmati dunia tanpa harus ada yang teluka.

Biarkan arus yang akan mengantarkan kita ke kebahagian masing-masing dan menjadikan duka sebagai teman untuk saling belajar menguatkan. Karena memang, ada atau tidak ada semua pasti berlalu. Sama seperti halnya hujan yang akan berganti langit biru.

Cerita ini, untuk semua yang semestinya menjadi penyesalan tapi memilih untuk menjadikannya sebagai penyesalan yang indah. Agar tidak menjadi beban diantara aku, kamu dan semua yang pernah ikut terlibat dalam semua huru-hara kisah kita.

Aku disini siap menanti musim yang baru,
Semoga di tempat ini dalam penantian musim yang baru, dapat kutemukan ‘kamu’ yang lain, yang dapat membuat semesta bergembira dan besukacita layaknya musim semi yang waktu itu.

pixabay

4 Comments

    • dhonnies
    • dhonnies

Leave a Reply