Pendakian ke Bukit Besak (Lahat) Versi Pejuang Weekend

Pendakian ke Bukit Besak Lahat – Ini cerita tentang saya dan empat orang ‘boloho’ yang gak sengaja dipertemukan di sebuah tempat antah berantah di kota kecil yang penuh banyak cerita dan kenangan yaitu Kota Tanjung Enim. kemudian melakukan perjalanan yang tidak direncanakan ke sebuah bukit yang ada di daerah Lahat Sumatra Selatan. Nama Bukit tersebut adalah Bukit Besak.

Awal Mula Perjumpaan

selero

Dulu saat pertama kali bertemu, saya kira mereka adalah orang-orang yang songong dan juga pada pasang muka jaim semua. Masih ingat betul gimana lugunya saya ketika bertemu mereka.

Mungkin mereka menggap saya ketika pertama kali ialah orang yang terlampau ‘wah’ terhadap urusan agama, secara sebelum saya masuk lingkungan situ saya udah diperkenalkan sebagai orang yang lulusan sebuah pesantren yang cukup ternama di Jombang.

Padahal kan gak semua orang yang lulusan pesantren itu ‘wah’, ya yang pinter agama pinter agama, yang tidak ya tidak. Aku termasuk yang kedua, yang belum terlalu pinter soal agama. Tapi, pahamlah ya sedikit-sedikit tentang agama. Makanya semua menilaiku kalau aku itu paham soal agama.

Seiring berjalannya waktu, setelah saya berada diantara mereka, tak lama datang lah seorang laki-laki yang juga akan sama-sama berjuang di kota Tanjung Enim. Namanya Ichwan Hatril biasa dipanggil Iwan begitu katanya.

Dia di ‘impor’ jauh-jauh dari negeri minang. Ya Iwan ini merupakan orang yang pertama kali yang sering saya ajak ngobrol dan dia juga teman satu-satunya saya di rumah maupun disekolah yang bisa diajak main.

Mungkin lewat perantara Iwan ini lah akhirnya  yang membuka persahabatan saya dengan yang lainnya. saya bisa dekat dan memberanikan ngobrol ataupun bercanda dengan mbak Fifi. Sebetulnya si iwan ini juga sebelumnya gak begitu kenal sama si mbak Fifi ini.

Berhubung sama-sama berasal dari negeri minang ya akhirnya mereka jadi akrab. Begitupun juga dengan saya, akhirnya mulai akrab dan terbiasa dengan mbak Fifi. Orang yang begitu songong ketika pertama kali bertemu. Tapi kalo sudah kenal, kesan songongnya agak berkurang kali ya. Mbak Fifi ini orang asyik lah buat diajak ngobrol dan bercanda.

Kemudian lama kelamaan juga saya mulai dekat dengan yang namanya mbak Septa. Pertama kali ketika bertemu mbak septa ini saya menilai kalo orang ini orang baru untuk lingkungan seperti sekolah islam. Terlihat dari style nya ketika di sekolah, tapi seiring berjalannya waktu mbak Septa sudah mulai membiasakan untuk menuju perubahan yang lebih baik.

Satu lagi yang tidak saya lupa dari mbak septa ini, dia mempunyai suara yang khas apalagi kalau sudah berteriak, penyayi sekelas Adele pun lewat.

Dan terakhir orang yang mulai akrab dengan saya adalah mbak Ucy. Seseorang yang songong kedua di mata saya setelah mbak Fifi.

Cara ngomongnya aja ketus, mungkin emang pembawaanya terhadap orang yang baru kali ya. Tapi, setelah lumayan lama kenal mbak Ucy, ternyata dia pendengar yang baik. Semua cerita didengarnya dengan baik walaupun kadang gak memberikan solusi.

Singkat cerita saya dengan empat orang tersebut sering ngobrol dan sering ‘ngebolang’ bareng, dan kebanyakan, itu kami lakukan di weekend yaitu hari sabtu dan minggu. Karena di hari itu lah kami libur. Itulah kenapa kami menamakan diri dengan pejuang weekend.

Pendakian ke Bukit Besak Lahat.

pendakian bukit besak

Ini jalan-jalan kami yang pertama. Sebenernya ini adalah rencana awal saya dengan Iwan untuk mendaki ke Gunung Dempo yang berada di Pagaralam. Secara kami berdua memiliki hobi yang sama yaitu mendaki gunung. Berhubung waktu yang ada sedikit, Cuma tiga hari.

Akhirnya saya dan Iwan memutuskan untuk mendaki gunung yang dekat saja. Walaupun bukan gunung setidaknya bukit lah yang didaki. Bukit Besak lah yang kami jadikan target buat kami daki, yang mana jarak dan waktu tempuh yang singkat yang cukup buat weekend kami.

Ketika ngobrol-ngobrol dan bercerita dengan yang lain terkait dengan rencana saya dan Iwan yang akan bakal mendaki bukitt besak, ternyata mbak Fifi dan mbak septa mau ikut gabung untuk mendaki bukit besak. Hanya mbak Ucy yang tidak mau ikut karena memang dia tidak begitu suka dengan hal-hal yang banyak mengeluarkan tenaga.

Sebenarnya berdasarkan pengalaman dulu-dulu agak berat sih mendaki dengan cewek, karena kita bakal dibuat repot. berhubung dan berhubung, Akhirnya kami berdua mengajak mbak Fifi dan mbak septa untuk ikut, pertimbangan kami mengajak mereka mungkin karena yang kami daki bukan gunung yang mana tidak harus menggunakan tenaga dan logistik yang banyak.

Pada hari ‘H’ yaitu hari sabtu kami melakukan semua persiapan mulai dari bekal dan yang lain-lain. Setelah ibadah jumat, Kami berempat berangkat dengan mengendarai dua motor.

Dengan bermodalkan GPS dan modal bertanya akhirnya kami tiba di Basecamp Bukit Besak, tempat dimana semua para pendaki registrasi dan istirahat sejenak. Kira-kira dua jam perjalanan dari tempat kami tinggal menuju lokasi. Dengan medan jalan yang berliku-liku disertai tanjakan dan turunan, yang kalo diibaratkan seperti naik roller coaster.

Setelah beristirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit besak. Pada awal-awal perjalanan kami disambut dengan senyuman-senyuman warga desa yang menambah semangat kami buat menuju puncak bukit besak.

Dua puluh menit berlalu kami tiba di gerbang pendakian, disana kami melewati jembatan gantung dengan view persawahan dan sungai dengan suara gemericiknya yang membuat kami tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah yang telah menciptakan keindahan Alamnya.

Selama perjalanan menuju shelter satu banyak sekali kebun karet dan juga kebun kopi, tak jarang juga banyak monyet yang masih berkeliaran bebas.

Tepat empat puluh menit kami akhirnya tiba di Shelter satu, tempat dimana para pendaki beristirahat sejenak. Di Shelter satu ini terdapat satu warung jadi jika para pendaki haus ataupun untuk sekedar makan ringan warung ini menyediakan.

Setelah bersitirahat di Shelter satu kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju shelter dua. Disini lah perjalanan yang sesungguhnya, perjalanan yang membutuhkan tenaga yang ekstra, Perjalanan yang sering berhenti karena nafas sudah ‘ngos-ngosan’.

Satu botol besar sudah kami habiskan untuk setengah perjalanan kami menuju shelter dua, bagaimana tidak medan sepanjang perjalanan itu menanjak terus dengan kemiringan 45 derajat sampai 80 derajat, ya kira-kira seperti itulah. Sampai-sampai kami harus menggunkan tali untuk menaiki salah satu tanjakan tersebut.

nanjak

Pukul enam sore akhirnya kami melihat sebuah gubuk kecil, dan ternyata gubuk kecil itu lah tempat shelter dua berada. Dengan keadaan capek yang bercampur senang, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda didekat sana.

Karena pertimbangan kami jarak ke puncak dari shelter dua hanya sekitar 20 menit dan pertimbangan keamanan juga, soalnya jika kami mendirikan tenda di puncak yang terbuka kemungkina akan terkena badai.

Waktu beranjak gelap dan Tenda sudah didirikan, waktunya kami beristirhat duduk di atas batu yang tak jauh dari tenda sambil mengobrol santai dan menikmati pemandangan lampu kerlap-kerlip yang ada di kota Lahat. Sungguh indah sekali, seakan-akan menjadi obat kerinduan terhadap hobi saya yang sempat terhenti begitu lama.

Keesokan harinya kami bangun lebih awal, agar kami bisa mendapatkan buruan kami, yaitu sunrise nya bukit besak. Tapi, apalah daya cuaca yang tidak mendukung ditambah dengan kabut, kami pun gagal mendapatkan buruan kami itu. Tak apalah, setidaknya kami sudah bersemangat untuk memotret salah satu mahakarya Allah.

Tak berapa lama cuaca pun menjadi cerah, kabut yang begitu tebal perlahan membuyarkan dirinya. Kami putuskan bersama untuk summit attack ke Puncak Bukit Besak. Estimasi awal yang katanya cuma dua puluh menit, kami tempuh dengan lima belas menit saja, mungkin faktor tenaga yang masih baru ditambah lagi perasaan tidak sabar akan sampai ke puncak.
Begitu sampai di puncak saya langsung ambil posisi terlentang sambil memandang langit membayangkan betapa susahnya perjuangan sampai disini. Begitu juga dengan ke empat boloho itu, bahkan mbak Fifi sampai sujud syukur diatas puncak bukit besak karena mbak Fifi orang yang paling ‘payah’ diantara kami, dia mengira bakal gak sampai ke puncak.

Setelah sejenak mengambil nafas, kami pun mengeluarkan senjata andalan kami, ya kamera dan tongsis. Itulah senjata kami dalam berburu lukisan alam. Setiap sudut puncak tidak lepas dari bidikan kamera kami, begitupun dengan gunung jempol yang view nya berada tepat di depan kami.

top bukit besak

Puas dengan foto-foto yang kami dapatkan diatas puncak, kami pun bergegas untuk turun kembali ke tenda untuk persiapan makan sebelum benar-benar turun ke basecamp. Sambil menunggu makanan masak kami membuat hammock diantara dua pohon yang ada di dekat tenda.

Karena bagi kami hammock merupakan tempat bergantung yang paling aman dan nyaman sesudah bergantung kepada Allah. Karena kalau kita bergantung pada manusia, kebanyakan sakit hati.

Acara makan bersama berakhir, kami pun packing persiapan untuk turun ke basecamp. Selama perjalanan kami isi dengan senda gurau untuk mengusir rasa lelah kami. Bahkan tak jarang kami terpeleset jatuh, dan herannya kami malah tertawa ketika ada salah satu dari kami yang terjatuh.

Satu jam tiga puluh menit akhirnya kami tiba kembali di basecamp bukit besak. Tak menunggu waktu lama kami langsung segera menghidupkan motor dan kembali ke rumah kami di Tanjung Enim.

Banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang kami dapat dari perjalanan pertama kami ini, kami dapat mengenal karakter satu sama lain. Ada istilah gini, “untuk mengenal karekter satu sama lain lakukan perjalanan dengan mereka, nanti kamu akan mengetahui karakter dia sesungguhnya”.

Sunset di Bukit Besak dengan View Gunung Dempo

1 thought on “Pendakian ke Bukit Besak (Lahat) Versi Pejuang Weekend

Leave a Comment